Heri Jaya Blogger 4 Februari 2026 pukul 10.30

Migrasi dari Blogger yang Lemot dan Pelit Visitor

Migrasi dari Blogger yang Lemot dan Pelit Visitor

Ada fase ketika saya merasa Blogger/Blogspot itu “selesai”: mudah dipakai, gratis, dan cepat untuk mulai. Tapi setelah bertahun-tahun, ada dua hal yang makin sering terasa:

  1. Lemot (atau minimal: tidak secepat yang saya mau), dan
  2. Pelit visitor (rasanya makin susah dapat traffic yang stabil, meski konten tetap jalan).

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan platform, tapi untuk merapikan alasan dan langkah yang saya ambil saat memindahkan herijaya.com ke stack yang lebih saya kontrol.

Kenapa terasa “lemot”?

“Lemot” itu bukan hanya soal skor PageSpeed. Ini kombinasi:

  • Banyak elemen bawaan (widget, script, embed) yang sulit dikontrol total.
  • Template/theme kadang menambah beban tanpa terasa.
  • Gambar sering tampil “besar” tanpa strategi responsive yang rapi.
  • Performa akhirnya tidak konsisten antar perangkat (terutama HP mid-low).

Kalau tujuan utama situs adalah dibaca, saya ingin halaman sesederhana mungkin: HTML bersih, CSS ringan, dan gambar yang menyesuaikan layar.

Kenapa terasa “pelit visitor”?

Ini bagian yang subjektif, tapi saya merasakan beberapa hal:

  • Ketergantungan penuh ke “aturan main” platform dan ekosistemnya.
  • Konten lama kadang sulit “naik lagi” tanpa update teknis.
  • Saat ada perubahan algoritma/traffic source, kita cuma bisa menunggu.

Saya ingin memindahkan fokus dari “mengejar platform” ke membangun aset sendiri: domain, struktur URL, dan performa yang bisa saya audit.

Target utama migrasi: URL jangan berubah

Kalau ada satu hal paling penting saat migrasi blog, itu ini:

Jangan mengubah URL lama kalau tidak terpaksa.

Di Blogger, format URL yang umum adalah seperti:

  • /2025/11/judul-post.html
  • /p/tentang.html

Di project ini, saya sengaja mempertahankan gaya itu supaya:

  • backlink lama tetap valid,
  • halaman yang sudah terindeks tidak “hilang”,
  • migrasi lebih aman dari sisi SEO.

Kenapa pilih Astro (static-first)?

Saya butuh sesuatu yang:

  • cepat (output static),
  • mudah dimaintain,
  • bebas hosting (bisa taruh di mana saja),
  • dan tetap enak untuk nulis (Markdown).

Astro cocok untuk itu: saya bisa punya halaman yang ringan, tapi tetap fleksibel kalau nanti mau tambah fitur.

Gambar: harus responsif, bukan cuma “ada”

Gambar itu sering jadi penyebab terbesar halaman berat. Prinsip saya:

  • Satu gambar jangan dikirim “ukuran monster” ke HP kecil.
  • Biarkan browser memilih ukuran terbaik.

Makanya gambar dari konten Blogger saya arahkan ke lokal, lalu dibuatkan output AVIF + WebP + fallback saat build. Chrome modern biasanya akan memakai AVIF, sementara browser lain minimal dapat WebP/fallback.

Setelah migrasi, menulis jadi lebih simpel dan rapi:

  • satu post = satu file Markdown,
  • metadata jelas (judul, tanggal-jam, permalink),
  • dan URL tetap “Blogger style” kalau saya mau.

Ini penting supaya saya tidak kembali ke kebiasaan lama “nulis dulu, urusan teknis belakangan”.

Penutup

Saya tidak anti-Blogger. Saya berterima kasih karena platform itu membantu saya mulai.

Tapi untuk fase berikutnya, saya ingin:

  • kontrol penuh atas performa,
  • struktur URL yang konsisten,
  • dan pengalaman membaca yang lebih nyaman.

Kalau kamu juga sedang mempertimbangkan migrasi, saran paling aman: mulai dari menjaga URL lama dulu, baru pelan-pelan rapikan theme, konten, dan gambar.

Label: Blogger, Migrasi, Astro, SEO, Performance