Menjual Mobil Kesayangan, Ada Rasa Sedih Tertinggal
Ketika Menjual Mobil Bukan Soal Harga, Tapi Soal Perasaan
Hari ini saya menjual mobil Fortuner saya. Mobil yang saya beli di akhir tahun 2017. Mobil yang, kalau dilihat dari luar, hampir tidak punya alasan untuk dijual.
Kilometernya baru sekitar 15 ribu. Cat masih mulus. Interior masih rapi. Bahkan ban pun masih bawaan dealer, belum pernah diganti.
Secara logika, ini mobil “sayang” untuk dilepas.
Dan justru di situ letak masalahnya. Saya menjual sesuatu yang sebenarnya tidak rusak, tidak rewel, tidak bermasalah—hanya tidak terpakai.
Mobil yang Lebih Banyak Diam Daripada Jalan
Fortuner itu bukan mobil yang buruk. Justru sebaliknya, ia terlalu baik untuk kehidupan saya yang sekarang.
Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mobil itu lebih sering diam. Parkir. Tertutup debu. Mesinnya jarang dipanaskan. Roda-rodanya jarang berputar.
Bukan karena saya tidak suka. Tapi karena hidup berubah.
Kesibukan mengambil alih. Prioritas bergeser. Waktu makin sempit. Dan mobil besar yang dulu terasa seperti pencapaian, kini hanya menjadi benda yang harus dirawat tanpa sempat dinikmati.
Rasionalitas Mengatakan “Jual Saja”
Secara rasional, keputusannya jelas:
- Mobil tidak terpakai
- Biaya perawatan tetap jalan
- Pajak tetap ada
- Nilai aset turun tiap tahun
- Dana bisa diputar untuk hal yang lebih produktif
Dan ada satu alasan paling jujur: saya tidak mampu merawatnya dengan layak, bukan karena tidak punya uang, tapi karena tidak punya waktu dan energi.
Saya juga butuh tambahan modal. Bukan untuk gaya hidup. Bukan untuk konsumsi. Tapi untuk sesuatu yang sedang saya bangun dan jalani setiap hari.
Secara angka, menjual mobil itu masuk akal. Bahkan terlambat.
Tapi Kenapa Tetap Sedih?
Masalahnya, manusia tidak hidup dari logika saja.
Saat mobil itu dibawa pergi oleh orang lain, ada rasa yang sulit dijelaskan. Bukan menyesal. Bukan juga ragu. Lebih ke kehilangan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Mobil itu bukan sekadar besi. Ia saksi dari fase tertentu dalam hidup saya. Fase ketika membeli Fortuner adalah simbol: “saya sudah sampai di titik ini.”
Walau jarang dipakai, ia tetap milik saya. Tetap ada. Dan kini, ia tidak lagi ada di halaman rumah.
Kehilangan Bukan Selalu Karena Salah Keputusan
Yang sering kita lupa: keputusan yang benar pun bisa terasa menyakitkan.
Menjual mobil itu bukan kesalahan. Justru mungkin keputusan paling dewasa yang bisa saya ambil saat ini.
Tapi sedihnya tetap nyata. Karena yang dilepas bukan hanya aset, tapi juga:
- harapan lama,
- rencana yang tak sempat dijalani,
- versi diri yang pernah bermimpi berbeda.
Dan itu wajar.
Tentang Melepaskan dengan Sadar
Ada perbedaan besar antara:
- kehilangan karena dipaksa, dan
- melepaskan karena sadar.
Saya tidak dipaksa menjual mobil itu. Saya memilihnya. Dengan penuh pertimbangan. Dengan kepala dingin.
Namun tetap saja, hati punya ritmenya sendiri. Ia butuh waktu untuk menerima bahwa sesuatu yang dulu kita banggakan, kini harus dilepas demi sesuatu yang lebih relevan.
Mobil Bisa Diganti, Arah Hidup Tidak Selalu
Mobil bisa dibeli lagi suatu hari nanti. Fortuner bukan barang langka. Tapi kesempatan, fokus, dan energi—itu yang sulit didapat kembali.
Saya memilih menukar benda yang jarang bergerak dengan modal yang bisa hidup. Saya memilih melepaskan simbol lama untuk memberi ruang pada proses baru.
Dan mungkin, rasa sedih ini bukan tanda kesalahan. Melainkan tanda bahwa saya pernah menghargai apa yang saya miliki.
Penutup
Hari ini saya menjual mobil. Dan ya, saya sedih.
Tapi saya juga tahu: kesedihan ini bukan karena keputusan yang salah, melainkan karena saya sedang menutup satu bab kehidupan dengan cara yang dewasa.
Tidak semua perpisahan harus penuh drama. Kadang cukup dengan diam, menarik napas, dan berkata dalam hati:
“Terima kasih, kamu pernah menjadi bagian dari perjalanan saya.”
Dan hidup pun lanjut berjalan—tanpa Fortuner, tapi dengan arah yang lebih jelas.