Mempekerjakan Saudara dan Kawan: Antara Bisnis dan Perasaan
Aku mengalaminya. Dan kebingungan yang muncul bukan hal yang memalukan. Justru itu tanda bahwa kita masih punya hati.
Saat itu, aku sering bertanya dalam diam: “Apa aku terlalu keras?” “Apa aku kurang tahu balas budi?” Atau justru sebaliknya, “Apa aku terlalu lembek sampai usaha ini pelan-pelan goyah?”
Tidak ada jawaban instan. Yang ada hanya rasa dilema yang terus menumpuk.
Ketika Orang Dekat yang Bekerja Bersama Mulai Berubah
Awalnya semua terasa hangat. Aku mempekerjakan orang dekat dengan niat baik. Ada rasa saling percaya, saling memahami. Rasanya lebih aman bekerja dengan orang yang sudah dikenal. Tidak perlu banyak aturan. Tidak perlu kaku.
Di kepala kita, sering muncul kalimat:
“Kita saudara.”
“Kita teman lama.”
“Pasti saling ngerti.”
Namun waktu pelan-pelan mengubah suasana.
Datang terlambat mulai dianggap biasa. Pekerjaan dikerjakan sekadarnya. Aturan yang dulu disepakati mulai dinegosiasikan. Teguran yang seharusnya profesional terasa berubah jadi persoalan pribadi.
Tanpa sadar, posisi atasan dan pekerja menghilang. Yang tersisa hanya hubungan emosional. Dan di titik itu, disiplin mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Rasa Aman yang Diam-diam Menggerus Tanggung Jawab
Aku mulai menyadari satu hal penting: orang dekat sering merasa terlalu aman.
Ada perasaan:
“Saya tidak mungkin dipecat.”
“Kalau salah, paling ditegur.”
“Usaha ini kan milik kita juga secara emosional.”
”Saya tidak tergantikan.”
Rasa aman memang penting. Tapi rasa aman tanpa batas ternyata berbahaya. Disiplin perlahan turun. Tanggung jawab tidak lagi dijaga seutuhnya. Bukan karena niat buruk, tapi karena merasa terlalu nyaman.
Dan yang paling melelahkan, akulah yang harus menanggung dampaknya.
Ketika Bisnis Berjalan Tanpa Sistem, yang Bekerja Justru Perasaan
Banyak usaha keluarga atau pertemanan jatuh bukan karena kekurangan modal, tapi karena tidak ada pagar profesional sejak awal.
Aku mengalaminya:
- Jobdesk tidak pernah benar-benar jelas
- Aturan hanya berupa ucapan lisan
- Sanksi tidak pernah konsisten
Akhirnya yang berjalan bukan sistem, tapi rasa sungkan. Bukan logika, tapi perasaan tidak enak.
Dan perasaan, sebaik apa pun niatnya, tidak pernah cukup kuat untuk menopang bisnis dalam jangka panjang.
Kenapa Dilema Ini Terasa Sangat Berat?
Karena aku berdiri di tiga tekanan sekaligus.
Di satu sisi, ada tekanan bisnis. Usaha ini harus jalan. Ada biaya, ada tanggung jawab, ada masa depan.
Di sisi lain, ada tekanan sosial. Takut dicap tidak tahu balas budi. Takut dibilang tega pada saudara sendiri.
Dan yang paling berat, ada tekanan batin. Aku tidak ingin merusak persaudaraan. Aku tidak ingin kehilangan pertemanan yang sudah lama dibangun.
Ini bukan soal lemah atau kuat. Ini soal konflik nilai yang nyata dan menyakitkan.
Satu Hal Penting yang Akhirnya Aku Sadari
Ada satu kalimat yang lama-lama terasa sangat benar:
Bisnis tanpa sistem akan selalu mengorbankan hubungan.
Bukan sebaliknya.
Tanpa sistem:
- Hubungan rusak perlahan karena dipendam
- Bisnis ikut melemah
- Dan pemilik usaha menjadi orang paling capek, paling bingung, dan sering kali paling disalahkan
Padahal niat awalnya hanya ingin membantu dan berbagi rezeki.
Mencari Jalan Tengah yang Manusiawi
Aku sadar, solusi ekstrem tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Menahan terus salah. Memecat dengan emosi juga salah.
Akhirnya aku belajar mencari jalan tengah.
Memisahkan Peran, Bukan Orang
Aku berhenti memandangnya sebagai:
“Saya memberhentikan saudara atau teman.”
Dan mulai memaknainya sebagai:
“Saya sedang menata ulang peran kerja agar usaha tetap sehat.”
Di luar jam kerja, kami tetap saudara, tetap teman. Namun di jam kerja, aku mulai belajar bersikap profesional—bukan karena tidak punya hati, tapi justru karena ingin menjaga hubungan itu sendiri.
Aturan Tertulis Adalah Penyelamat, Bukan Ancaman
Aku belajar bahwa aturan tertulis bukan bentuk ketidakpercayaan.
Justru sebaliknya, aturan:
- Menghindarkan kesalahpahaman
- Mencegah konflik personal
- Melindungi semua pihak
Aturan tidak perlu rumit. Cukup jelas:
- Jam kerja
- Tanggung jawab
- Larangan
- Konsekuensi yang bertahap dan adil
Dengan aturan, keputusan tidak lagi terasa personal. Semuanya kembali ke kesepakatan.
Berbicara Jujur, Tanpa Marah
Ini bagian yang paling sulit, tapi juga paling penting.
Aku belajar menyampaikan dengan nada tenang:
“Saya ingin usaha ini jalan sehat. Kalau tidak ada aturan, justru kita yang bisa rusak hubungannya. Dan saya tidak mau itu terjadi.”
Kalimat seperti ini tidak menyudutkan siapa pun. Ia menjaga martabat semua pihak.
Jika Harus Berpisah, Lakukan dengan Bermartabat
Tidak semua orang mau berubah. Dan itu kenyataan yang harus diterima.
Jika setelah aturan jelas dan komunikasi terbuka tetap tidak ada perubahan, maka berpisah bukanlah pengkhianatan. Itu adalah konsekuensi profesional.
Aku belajar satu hal penting: orang yang benar-benar saudara atau teman, biasanya akan mengerti—meski kadang butuh waktu.
Tentang Komentar yang Tidak Pernah Hilang
“Kenapa nggak pakai saudara sendiri?”
Kalimat ini hampir pasti akan selalu ada, apa pun keputusan kita.
Jawaban yang akhirnya aku pegang:
“Saya ingin semua orang nyaman. Kalau dicampur urusan keluarga dan kerja, seringnya malah rusak dua-duanya.”
Tenang, tidak menyerang, dan jujur.
Penutup: Bertumbuh Tanpa Kehilangan Hati
Aku menulis ini bukan untuk menggurui. Ini catatan jujur dari seseorang yang pernah berada di tengah dilema.
Aku bukan egois. Aku bukan kejam. Aku hanya sedang bertumbuh.
Dan satu kalimat yang kini selalu aku ingat:
Usaha boleh gagal dan bangkit lagi. Tapi hubungan yang rusak karena dipendam terlalu lama, sering kali tidak bisa diperbaiki.
Menjadi profesional tidak berarti kehilangan rasa. Justru dengan batas yang jelas, aku belajar menjaga agar usaha tetap hidup, dan hubungan tetap utuh.