Heri Jaya Pengalaman 6 Februari 2026 pukul 22.20

Tentang Memberi Hutang, dan Batas Ikhlasnya Manusia

tentang-uang-yang-dipinjamkan-dan-batas-ikhlas-manusia.png

Catatan Kecil di Kepala Sendiri

Saya menulis ini bukan untuk mencari pembenaran. Juga bukan untuk mengajari siapa pun.

Ini hanya catatan kecil— tentang keputusan yang tidak tercatat di buku kas, tapi terasa berat di kepala.

Beberapa waktu terakhir, saya kembali berada di situasi yang pernah saya alami bertahun-tahun lalu: orang datang meminjam uang. Bukan satu. Bukan dua. Dan selalu dengan cerita yang berbeda, tapi rasa yang sama.


Orang Selalu Datang Saat Kita Terlihat Cukup

Saya sering bertanya dalam diam: kenapa ya, kok orang-orang meminjam uang ke saya?

Padahal saya bukan yang paling kaya. Bukan juga yang hidupnya paling longgar.

Mungkin karena saya terlihat cukup. Atau mungkin karena saya tidak pandai berkata “tidak” dengan cepat.

Atau mungkin, orang bisa merasakan satu hal sederhana: saya akan mendengarkan dulu, sebelum menilai.


Ketika Uang Itu Ada, Tapi Sudah Punya Tujuan

Secara teknis, uang itu ada. Usaha tidak terganggu. Hidup masih berjalan.

Namun di kepala saya, uang itu sudah punya nama: modal usaha, cadangan, rasa aman.

Saya tahu betul, usaha ini akan jauh lebih nyaman jika modalnya sangat jauh lebih dari cukup. Bukan untuk gaya hidup, tapi untuk ruang bernapas.

Dan justru di titik “cukup tapi belum lega” itulah, orang datang.


Alasan yang Sulit Ditolak

Kasus terakhir terasa paling berat.

Bukan sekadar keperluan biasa. Ada kata pidana. Ada kecelakaan kendaraan roda empat. Ada keluarga yang terancam berurusan dengan hukum.

Di titik itu, penolakan tidak lagi sesederhana hitung-hitungan.

Saya tahu, untuk membantu, saya harus melepas sebagian kenyamanan—bahkan menjual mobil yang sebenarnya masih saya butuhkan sebagai penopang.

Saya berhenti cukup lama. Bukan karena ragu memberi, tapi karena saya sedang menimbang diri sendiri.


Antara Logika dan Rasa

Logika berkata: kamu boleh menolak. Hati berkata: kamu masih bisa menanggung ini.

Dan di antara dua suara itu, saya memilih yang paling jujur pada kondisi saya saat itu: saya memberi, dengan sadar, tanpa merasa paling benar.

Berat? Iya. Nyaman? Tidak sepenuhnya. Menyesal? Tidak juga. Ikhlas? Iya.


Memberi dari Cukup, Bukan dari Kekurangan

Belakangan saya belajar satu hal penting:

Memberi itu bukan soal ada atau tidak ada uang. Tapi soal masih sanggup berdiri setelah memberi.

Saya tidak memberi sampai usaha terganggu. Saya tidak memberi sampai hidup saya runtuh.

Saya memberi di batas di mana saya masih bisa berjalan, meski langkahnya tidak seleluasa sebelumnya.

Dan saya rasa, di situlah batas yang sehat.


Tentang “Rezeki Lewat Saya”

Ada pikiran yang sering muncul: “Mungkin ini rezeki dia yang dititipkan lewat saya.”

Saya tidak menolak pikiran itu. Tapi saya juga menambahkan satu kalimat lain, yang sering saya ulang dalam kepala:

hidup saya juga amanah.

Saya tidak ingin menjadi orang baik yang pelan-pelan habis. Saya ingin menjadi orang yang tetap bisa menolong, tanpa kehilangan diri sendiri.


Batas yang Sedang Saya Pelajari

Saya tidak tahu apakah keputusan ini akan selalu saya ambil di masa depan. Mungkin lain waktu saya akan berkata tidak. Dan itu juga sah.

Untuk saat ini, saya hanya belajar satu hal: menjaga hati tetap terbuka, sambil perlahan belajar memberi batas.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang selalu merasa paling benar— tapi tentang masih bisa tidur dengan kepala tenang, dan bangun keesokan harinya tanpa menyesali diri sendiri.

Label: Pengalaman, Refleksi, Keputusan, Uang, Empati, Cerita