Farming Game Online (Albion dll) dengan Bot Itu Haram?
Terutama di game seperti Albion Online, meskipun sebenarnya tidak berhenti di situ. Banyak MMORPG lain mengalami hal yang sama. Bot berjalan sendiri, memanen sendiri, membunuh monster sendiri, dan menghasilkan item tanpa henti. Pemiliknya? Tinggal cek hasil.
Awalnya saya juga menganggapnya biasa. “Namanya juga game online,” pikir saya waktu itu. Tapi semakin lama saya bermain dan mengamati, semakin muncul satu pertanyaan yang tidak bisa saya hindari: ini masih sekadar hiburan, atau sudah masuk wilayah etika dan moral serta keuntungan yang halal?
Ketika Dunia Game Tidak Lagi Netral
Di awal bermain, saya menikmati semuanya. Capek iya. Bosan iya. Tapi ada rasa puas karena semua hasil datang dari usaha sendiri. Namun lama-kelamaan, saya mulai menyadari kejanggalan. Ada karakter-karakter yang:
- Farming tanpa jeda
- Gerakannya kaku dan berulang
- Online hampir 24 jam
- Tidak pernah salah langkah
Awalnya kita bilang, “wah rajin banget.” Tapi kita semua tahu, itu bukan manusia.
Di titik itu, saya mulai merasa ada yang tidak beres. Market jadi aneh. Harga rusak. Usaha pemain manual seperti tidak ada artinya. Dan di sinilah saya mulai sadar: game online modern punya ekosistem ekonomi yang nyata, meskipun bentuknya digital.
Ketika ada ekonomi, ada aturan. Ketika ada aturan, ada tanggung jawab.
Dalih yang Paling Sering Muncul: “Salah Developer”
Saya sering mendengar pembelaan ini:
“Kalau bisa dibot, berarti salah developernya. Sistemnya bisa diautomatisasi. Kita cuma memanfaatkan peluang.”
Kalimat ini terdengar pintar, tapi berbahaya.
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa semua yang bisa dilakukan otomatis boleh dilakukan. Justru sebaliknya, Islam sangat tegas soal amanah dan perjanjian.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Ma’idah: 1)
Saat kita membuat akun game, menekan tombol I Agree, dan masuk ke dalam sistem, akad sudah terjadi. Meski tidak ada ijab kabul lisan, akad digital tetap akad. Melanggar aturan yang disepakati dengan sadar bukan sekadar pelanggaran teknis, tapi pelanggaran amanah.
Logika “salah developer” tidak membatalkan tanggung jawab pribadi. Pintu rumah tidak dikunci bukan berarti halal untuk diambil isinya.
Masalah Utama Bukan Botnya, Tapi Caranya
Di sinilah banyak orang keliru. Masalahnya bukan teknologi, tapi cara memperoleh keuntungan.
Bot bekerja tanpa lelah, tanpa batas manusiawi. Ia menghasilkan item dan silver jauh di atas kemampuan pemain normal. Dampaknya tidak langsung terasa di satu orang, tapi merusak sistem secara keseluruhan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Batil di sini bukan hanya mencuri secara kasar, tapi juga mengambil keuntungan melalui cara yang rusak, curang, dan merugikan pihak lain. Dalam konteks game online, bot mengambil keuntungan dari ketidakadilan sistematis.
Mungkin tidak ada yang kita rampas langsung, tapi efeknya nyata:
pemain jujur kalah, ekonomi hancur, dan usaha manusia tidak lagi dihargai.
Kerugian terbesar bot bukan pada pemain lain, tetapi pada akad yang dilanggar secara sadar.
Sekalipun:
- Tidak ada pemain yang merasa dirugikan
- Ekonomi game tetap stabil
- Developer “diam saja”
➡️ pelanggaran akad tetap terjadi
Dalam Islam:
-
Dosa tidak mensyaratkan adanya korban langsung
-
Cukup ada:
- pelanggaran perjanjian
- kesengajaan
- keuntungan dari pelanggaran itu
📌 Ini yang membuat hukumnya jatuh, walaupun dampak sosialnya kecil.
Hadits yang Relevan di Dunia Digital
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)
Menipu tidak selalu berarti berbohong dengan kata-kata. Dalam dunia modern, menipu bisa berbentuk sistem, rekayasa, dan manipulasi yang disembunyikan.
Bot adalah bentuk kemenangan tanpa kejujuran. Dan Islam tidak pernah membenarkan hasil yang lahir dari kecurangan, meskipun caranya canggih dan sulit dideteksi.
“Tapi Kan Itu Hak Kita Sebagai Pemain?”
Ini kalimat lain yang sering muncul.
Masalahnya, hak tidak pernah berdiri sendiri tanpa cara yang benar. Islam tidak mengajarkan bahwa setiap penghasilan otomatis halal hanya karena “hasil kerja”, apalagi jika kerja itu melanggar aturan dan merugikan pihak lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik, dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
Jika prosesnya rusak, hasilnya ikut rusak. Uang dari bot farming apalagi jika dijual ke dunia nyata masuk kategori haram karena cara memperolehnya, bukan karena bendanya.
Lalu Bagaimana dengan Farming Manual?
Ini penting ditegaskan.
Jika:
- bermain manual,
- mengikuti aturan,
- capek sendiri,
- hasil sesuai kemampuan manusia,
maka itu halal. Meski repetitif, meski membosankan, itu tetap usaha nyata. Islam tidak melarang lelah. Yang dilarang adalah curang dan merugikan.
Titik Berhenti yang Menenangkan
Saya pribadi sampai pada satu titik sederhana: kalau capek, berhenti.
Bukan cari jalan pintas.
Bukan pasang bot.
Bukan bermain curang.
Aneh memang, tapi justru setelah itu, bermain terasa lebih ringan. Tidak ada rasa was-was, tidak ada rasa bersalah, dan tidak ada ketakutan sewaktu-waktu “kena ban”.
Yang tersisa cuma hiburan seperti seharusnya game itu berfungsi.
Kesimpulan yang Tegas dan Jujur
Dengan mempertimbangkan:
- akad yang dilanggar,
- kecurangan sistematis,
- dalil Al-Qur’an dan hadits,
- serta dampak nyata pada orang lain,
maka kesimpulannya jelas:
Farming game online dengan bot, terutama jika melanggar aturan dan dimonetisasi, cenderung haram secara syariat.
Bukan karena gamenya. Bukan karena teknologinya. Tapi karena caranya.
Rezeki yang sedikit tapi bersih selalu lebih menenangkan daripada banyak tapi meninggalkan tanya.