Jangan Tonjolkan Diri dalam Bersosial Masyarakat
Kemerdekaan Indonesia lahir dari luka yang panjang. Pola hidup yang keras di masa nenek buyut kita meninggalkan warisan psikologis yang kompleks. Akibatnya, karakter masyarakat menjadi beragam: ada yang lembut, ada yang keras, ada yang tulus, dan ada pula yang penuh curiga. Ironisnya, nilai-nilai luhur—agama, akhlak, dan hati nurani—sering kali tersingkir oleh nafsu, gengsi, dan ambisi duniawi.
Ketika Kebaikan Justru Menjadi Sasaran
Sistem hukum di negeri ini sebagian besar merupakan warisan penjajah. Bukan hanya aturan tertulisnya, tetapi juga pola penegakan dan mentalitas di baliknya. Dalam praktiknya, hukum sering kali tampil kaku, dingin, dan tidak berbelas kasih. Lebih menyedihkan lagi, dalam realitas tertentu, orang-orang yang lurus, baik, dan tidak licik justru menjadi sasaran empuk.
Di tengah kondisi seperti ini, tampil menonjol—baik karena harta, pengaruh, atau bahkan kebaikan—bisa menjadi pedang bermata dua. Apa yang seharusnya menjadi kelebihan, justru berubah menjadi sumber masalah, kecemburuan, atau bahkan ancaman.
Pengakuan Diri: Kesalahan yang Sering Terulang
Sebagai rakyat biasa tanpa jabatan dan kekuasaan, keinginan untuk hidup tenang, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang fana, adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Namun kenyataannya, menjauh tidak selalu semudah itu.
Kesalahan pertama yang sering terjadi—dan ini pengakuan jujur—adalah menonjolkan diri. Entah itu menonjolkan kekayaan, pencapaian, atau bahkan kebaikan. Tanpa disengaja semua itu meski tampak wajar, tapi ternyata bersumber dari nafsu: keinginan untuk diakui, dihargai, atau dipandang lebih. Walau tidak ada niat akan hal tersebut tapi menonjolkan diri (terlihat lebih tinggi dari orang lain dalam lingkungan bermasyarakat) adalah bagian dari nafsu.
Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, ia lahir sebagai bentuk refleksi dan pembelajaran, terutama bagi pembaca yang mungkin sepemikiran atau pernah mengalami hal serupa.
Batasan yang Perlu Dijaga dalam Bersosial
Hidup bermasyarakat bukan hanya soal berbuat baik, tetapi juga soal memahami batas. Tidak semua kebaikan perlu diumumkan. Tidak semua kelebihan harus ditampilkan. Dalam banyak situasi, kebaikan harus “umum” (sama dengan orang lain di lingkungan bermasyarakt) kerendahan hati dan menyamakan derajat bukan sekadar nilai moral, tetapi juga bentuk perlindungan diri.
Realitas sosial mengajarkan satu hal yang pahit namun nyata: seberapa pun banyaknya harta atau kemampuan yang dimiliki, jika kita tidak berada—atau tidak ingin berada—dalam circle yang sederajat, maka kehidupan sosial bisa terasa berat. Salah bicara, salah sikap, atau terlalu menonjol sedikit saja bisa menimbulkan jarak, kecurigaan, bahkan konflik yang tidak perlu.
Kesederhanaan sebagai Jalan Tengah
Menjaga kesederhanaan dalam bersikap bukan berarti berpura-pura miskin atau merendahkan diri secara berlebihan. Kesederhanaan adalah kemampuan menempatkan diri secara tepat: tahu kapan berbicara, kapan diam, kapan memberi, dan kapan menahan diri.
Dalam masyarakat yang kompleks seperti Indonesia, rendah hati rendah diri sering kali lebih menyelamatkan daripada terlihat hebat. Menyembunyikan kelebihan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Penutup
“Jangan menonjolkan diri dalam bersosial masyarakat” bukan ajakan untuk menjadi pasif atau tidak berkembang. Ini adalah ajakan untuk lebih sadar diri, lebih peka terhadap lingkungan, dan lebih bijak dalam menempatkan kelebihan yang kita miliki.
Di dunia yang penuh hiruk-pikuk, kadang hidup tenang bukan soal memiliki lebih banyak, tetapi soal memperlihatkan lebih sedikit. Keselamatan, kedamaian, dan ketenangan batin sering kali lahir dari sikap sederhana—tidak menonjol, namun tetap bermakna.
Ya itulah rangkuman cara hidup bermasyarakat di indonesia menurut pengalaman dan pengamatan saya, semoga bisa bermanfaat serta kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT.